Setelah seharian bekerja membajak sawah, rasa lelah dan pegal sangat terasa. Apalagi diusia mulai menjelang berkepala empat. Pekerjaan se
perti itu sudah menjadi kebiasaan bagi kita yang tinggal di kampung. Sore itu, terlihat mendung, saya bergegas pulang kerumah sebentar lagi akan turun hujan. Bila hujannya deras kasian kambing akan kehujanan. Kambing paling tidak suka sama air, begitulah pikir saya, dengan segera pulang, mengamankan kabing ke kandangnya. Tak berapa lama hujan gerimis pun turun membasahi bumi.
Setelah shalat magrib dikejutkan oleh suara orang mintak tolong. Seperti orang yang jatuh dari sepeda, aduh kasian didalam gelap, malam jum'at pula. Merasa iba, akhirnya mencoba menolongnya. Saya berlari kearah suara yang meminta tolong, arahnya menuju ke sungai. Kebetulan rumah saya dekat dengan sungai, pencahayaan listrik kurang, apalagi listriknya sering padam. sebelum saya tinggal disini, semua orang yang melewati merasa takut dan merinding, anggapan mereka angker.
"Bang...bang...bang..."
suara cewek yang memanggil, saya abaikan suara tersebut. Pikiran saya tertuju pada suara orang yang merintih kesakitan. Coba kalau yang jatuh itu ibu saya, siapa yang akan menolongnya, kasiankan? tekad saya sudah bulat untuk menolongnya, saya terus berlari.
"Bang..." Terdengar suara cukup keras, seperti ada yang menarik saya ke belakang.
"Abang kesurupan ya".
"Ada orang yang minta tolong, terjatuh, dan berdarah, dek"
"Tidak ada bang"
Istri saya mengingatkan, sambil menyalakan senter ke arah yang saya tuju. Baru menyadari bahwa saya kesurupan, seluruh badan merinding. Embek...embek...embek...saya terjaga, suara kambing menangis terdengar jelas, apa ada yang mencuri, atau jangan-jangan ada ular yang mencoba untuk memangsanya, seperti anaconda di sungai amazon, ini pasti ular dari sungai di belakang rumah, pikir saya. Saat melihat kearah Jam menunjukan jam satu lewat empat puluh menit. Memberanikan diri mengintip keluar rumah, kambing terus menjerit ketakutan. Saya tidak berani keluar rumah, takut kesurupan seperti magrib tadi.
Apa yang terlihat diluar dugaan, badan terasa berat, jadi merinding. Saya terus berusaha melihat sejelas-jelasnya, rambutnya terurai panjang, mukanya kelihatan hitam ditutupi rambut, tangan panjang bergoyang goyang, kakinya berayun-ayun jauh dari tanah. Seumur hidup baru kali ini melihat secara nyata. Jantung berdebar-debar serasa baru siap lari dari kejaran anjing gila. Mulut tak henti-henti membaca ayat kursi,suara kambing pun semakin mengembek ketakutan. Pantesan kambing menangis,ternyata kuntilanak di depannya.
Ya Allah apa yang harus saya lakukan, bagaimana kalau makhluk itu masuk kerumah pas menghadap kemuka saya. Iiih...seram banget, apalagi kalau kambing diam, dia yang menangis, ah bisa-bisa jantungan saya.
"Dek…dek…bangun, lihat ada makluh aneh di depan kambing…
"Ah, abg ini bisa saja, itu pasti abg kesurupan seperti magrib tadi, jadi liat yang aneh-aneh."
"Ayo, bangun..."
"Udahlah bang tidur saja, sebentar lagi juga diam."
Malam terasa panjang, tidak seperti biasanya. Saya berusaha memejamkan mata tapi suara kambing terus menjerit seperti suara memintak tolong. Dipikiran saya terlintas beginilah rasanya kalau telah mati di dalam kubur, sendirian, gelap, sempit, terjepit, ditambah kala jengking dan bau busuk yang menyengat bila semasa hidup tidak memiliki amalan dan beribadah. Terasa masa dikuburan sangat lama. Bedahalnya bila amalannya bagus di alam kubur pasti tenang
"Bang...bang...bangun shalat subuh,,,"
Ada suara yang memanggil saya, suara itu tak asing lagi, pasti ma si Rahmat. Badan terasa sakit, dan agak malas untuk bangun pagi karena tidurnya kurang nyaman. Setelah shalat subuh, saya ingin memastikan apa yang terjadi semalam, ternyata di depan kambing ada baju yang tersangkut, inikan baju saya pergi kesawah kemaren sore. Inikah hantu yang saya maksud semalam, sungguh terlalu. Ternyata saya salah menduga, efek dari PLN sering padam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar